Manajemen Risiko

Untuk membuat bisnis plan, di dalamnya wajib ada perencanaan manajemen risiko.

Mengapa penting? Karena, kita tidak bisa menjamin 100% bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar.

Untuk itu, penting untuk dibuat manajemen risiko, jika hal yang tidak diinginkan terjadi.

Definisi Umum Manajemen Risiko

manajemen risiko definisi

Manajemen adalah seni untuk mengatur sesuatu guna mencapai tujuan.

Sedangkan risiko adalah konsekuensi atau akibat yang mungkin terjadi setelah kita melakukan suatu tindakan.

Manajemen risiko adalah proses identifikasi, analisis, penilaian, pengendalian, dan penghindaran, minimalisasi, atau penghapusan risiko yang tidak dapat diterima.

Manajemen risiko biasanya dilakukan oleh investor atau fund manager saat melakukan analisis untuk mengukur potensi kerugian dalam investasi.

Kemudian mereka mengambil tindakan yang tepat sesuai dengan tujuan investasi dan toleransi risiko yang telah dianalisis.

Pengertian Manajemen Risiko Menurut Ahli

manajemen risiko menurut ahli

Berikut ini adalah definisi manajemen risiko menurut para ahli atau pakar:

1. Manajemen risiko menurut Fahmi

Bidang ilmu yang secara spesifik membahas mengenai bagaimana organisasi menerapkan ukuran dalam memetakan semua permasalahan dengan menggunakan pendekatan manajemen secara sistematis dan komprehensif.

2. Manajemen risiko menurut Djojosoedarso

Pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen dalam penanggulangan risiko, terutama risiko yang dihadapi oleh organisasi/perusahaan, keluarga dan masyarakat.

3. Manajemen risiko menurut Tampubolon

Pengertian manajemen risiko adalah proses yang terarah dan bersifat proaktif yang bertujuan untuk mengakomodasi kemungkinan gagal pada salah satu atau sebagian dari sebuah transaksi atau instrumen.

4. Manajemen risiko menurut Dorfman

Suatu proses logis dalam usaha untuk memahami eksposur terhadap suatu kerugian.

5. Manajemen risiko menurut Smith

Proses identifikasi, pengukuran, dan kontrol keuangan dari sebuah risiko yang mengancam aset dan penghasilan dari sebuah perusahaan atau proyek yang bisa mengakibatkan kerugian perusahaan.

6. Manajemen risiko menurut Djohanputro

Proses identifikasi, mengukur, memetakan, mengembangkan alternatif penanganan risiko, memonitor dan pengendalian penanganan risiko, yang dilakukan secara terstruktur dan sistematis. Dalam makalah manajemen risiko, pendapat ini juga akan selalu ditemukan.

Bagaimana proses tahapan pembuatan manajemen risiko?

proses manajemen risiko

Dalam membuat rancangan manajemen risiko, ada tahapan-tahapan yang harus kita buat. Supaya manajemen risiko tersebut dapat tepat ketika digunakan, proses manajemen risiko tersebut antara lain:

1. Identifikasi risiko

Pertama kamu harus mengidentifikasi setiap risiko-risiko yang kemungkinan akan terjadi. Risiko tidak cuma dalam satu aspek saja, tapi menyeluruh.

Dalam bisnis, kamu harus mempertimbangkan segala risiko di berbagai sektor, dari ekonomi, pasar, suplay barang, marketing, dll.

2. Menilai risiko

Setelah diidentifikasi dan ditemukan risikonya, maka selanjutnya adalah menilai risiko tersebut.

Setiap risiko pasti memiliki tingkat urgensi yang berbeda-beda, untuk itu dibuatlah skala prioritas risiko mana yang paling mungkin terjadi. Itulah yang jadi skala prioritas untuk diantisipasi.

3. Mengelola risiko

Setelah didapat skala prioritas dari risiko tersebut, maka selanjutnya adalah membuat planning bagaimana risiko tersebut ditangani atau diselesaikan.

Ada empat tipe respon yang bisa dilakukan, yaitu:

  • Risk rentention, kita hadapi risiko dengan jantan. Karena, apapun yang kita lakukan, risiko itu pasti tetap ada potensinya. Contoh: bencana alamat.
  • Risk reduction, aksi untuk mengurangi akibat yang telah terjadi. Contoh: audit internal perusahaan.
  • Risk transfer, mengalihkan risiko kepada pihak lain. Contoh: menggunakan asuransi.
  • Risk avoidance, tindakan untuk menghindari masalah. Contoh: membuat seleksi karyawan dengan ketat.

4. Implementasi

Setelah dibuat rancangan respon yang akan dilakukan, selanjutnya adalah mengimplementasikan rencana tersebut ke dalam proses pendirian bisnis.

5. Evaluasi

Terakhir adalah melakukan evaluasi setelah melakukannya. Hal ini penting dilakukan untuk memperoleh hasil apakah cara pengelolaan resiko tersebut sudah tepat atau tidak.

Kalau tepat maka dipertahankan, jika belum maka diganti dengan solusi lain.

Apa saja manfaat manajemen risiko?

manfaat manajemen risiko

Sebuah manajemen memang selalu memiliki memiliki tujuan, tidak terkecuali manajemen risiko.

Beberapa tujuan manajemen risiko adalah sebagai berikut:

1. Melindungi Perusahaan

Melindungi Perusahaan dalam hal ini, manajemen akan memberikan perlindungan terhadap perusahaan dari tingkat risiko signifikan yang bisa menghambat proses pencapaian tujuan perusahaan.

2. Membuat Kerangka Kerja

Membantu Pembuatan Kerangka Kerja dimana dalam proses pembuatan kerangka kerja manajemen risiko ini dilakukan secara konsisten atas risiko yang ada pada proses bisnis dan juga fungsi-fungsi di dalam sebuah perusahaan.

3. Supaya Pro Aktif

Tujuan manajemen risiko selanjutnya ialah mendorong manajemen Agar Proaktif dalam mengurangi potensi risiko, dan juga menjadikan manajemen risiko sebagai sumber keunggulan bersaing dalam kinerja sebuah perusahaan.

4. Lebih Hati-Hati

Sebagai peringatan untuk berhati-hati guna mendorong semua individu dalam perusahaan supaya bertindak hati-hati dalam menghadapi risiko perusahaan agar tercapai tujuan yang diinginkan bersama.

5. Meningkatkan Kinerja

Dapat meningkatkan kinerja perusahaan dimana dalam membantu meningkatkan kinerja perusahaan dengan cara menyediakan informasi tingkat risiko yang disebutkan dalam peta risiko atau yang biasa disebut dengan risk map.

Hal ini juga berguna dalam hal pengembangan strategi dan perbaikan proses risk management secara berkelanjutan. Dalam manajemen risiko perbankan, hal ini juga sering dirasakan manfaatnya.

6. Sosialisasi

Bisa mensosialisasikan Manajemen Risiko dimana dalam hal ini dibangun kemampuan individu maupun manajemen guna mensosialisasikan pemahaman tentang risiko dan pentingnya risk management.

Apa saja jenis-jenis manajemen risiko?


jenis jenis manajemen risiko

Berikutnya adalah membahas mengenai bagian manajemen risiko yang terdiri atas:

1. Manajemen Risiko Operasional

Berkaitan dengan resiko yang timbul sebagai akibat gagal fungsi proses internal, misalnya saja dikarenakan human error, kegagalan sistem, faktor luar seperti bencana dan lain sebagainya.

Dalam manajemen risiko operasional, terdapat 4 faktor penyebab resiko antara yakni proses,  manusia, sistem dan juga kejadian eksternal.

2. Manajemen hazard

Berkaitan dengan kondisi potensial yang bisa mengakibatkan kebangkrutan dan juga kerusakan. Ketika membahas hazard, tentu saja turut membahas peril.

Risiko perilaku yakni peristiwa yang dapat menimbulkan kerugian bisnis.

Dalam hal ini terdapat tiga macam hazard yang memang harus diketahui, antara lain physical hazard, moral hazard dan legal hazard.

3. Manajemen Resiko Finansial

Upaya pengawasan risiko dan juga perlindungan hak milik, keuntungan, harta dan juga aset sebuah badan usaha.

Pada prakteknya, proses pengelolaan risiko ini akan meliputi identifikasi, evaluasi dan melakukan pengendalian resiko apabila ditemukan hal yang mengancam keberlangsungan organisasi.

Biasanya hal ini juga akan diterapkan untuk manajemen risiko perusahaan. Ada beberapa risiko yang terkait dengan finansial ini yaitu:

  • Resiko likuiditas
  • Resiko akuntansi
  • Diskontinuitas pasar
  • Risiko regulasi
  • Resiko kredit
  • Resiko akuntansi
  • Resiko pajak

4. Manajemen Resiko Strategis

Berkaitan dengan pengambilan sebuah atau beberapa keputusan. Resiko yang pada muncul ialah  kondisi tidak terduga yang bisa mengurangi kemampuan pelaku bisnis dalam menjalankan strategi yang direncanakan.

Dalam hal ini terdapat beberapa faktor seperti resiko operasi, resiko kompetitif , resiko asset impairment, bahkan juga  resiko frenchise jika memang ada.

Komponen Manajemen Risiko

komponen manajemen risiko

Untuk melakukan manajemen risiko kita perlu melelui beberapa proses.

Seperti yang dikutip dari id.wikipedia.org, COSO atau Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission menyebutkan ada delapan kerangka yang berkaitan dalam Manajemen Risiko Korporasi (MRK) yaitu:

1. Lingkungan Internal (Internal Environment)

Proses pertama ini berkaitan dengan lingkungan perusahaan beroperasi.

Mulai dari risk-management philosophy, integrity, risk-perspective, risk-appetite (penerimaan risiko), ethical values, struktur organisasi, hingga pendelegasian wewenang yang dilakukan oleh perusahaan.

2. Penentuan sasaran (objective setting)

Langkah selanjutnya adalah penentuan tujuan dari organisasi agar risiko dapat didentifikasi, diakses, dan dikelola sesuai dengan tujuan tersebut.

Objective ini bisa kita klasifikasikan menjadi dua yaitu strategic objective yang berfokus pada perwujudan visi misi dan activity objective bertujuan pada aktivitas seperti operasi, reportasi, dan kompliansi.

3. Identifikasi peristiwa (event identification)

Berikutnya adalah mengidentifikasi kejadian-kejadian potensial yang mempengaruhi strategi atau pencapaian tujuan dari organisasi.

Kejadian tidak pasti tersebut bisa berdampak positif (opportunities), namun dapat pula sebaliknya yang lebih sering kita sebut sebagai risiko (risks).

4. Penilaian risiko (risk assessment)

Langkah ini menilai sejauh mana kejadian atau keadaan tadi dapat mengganggu pencapaian tujuan.

Besarnya dampak dapat dianalisis melelui dua perspektif, yaitu: likelihood (kecenderungan atau peluang) dan impact/consequence (besaran dari terealisirnya risiko).

5. Tanggapan risiko (risk response)

Setelah itu organisasi harus menentukan sikap atas hasil penilaian risiko.

Tanggapan ini dapat berupa menghindari (avoidance) risiko, mengurangi (reduction) risiko, memindahkan (sharing) risiko, dan menerima (acceptance) risiko, tergantung dengan risiko yang dihadapi.

6. Aktivitas pengendalian (control activities)

Proses ini berperanan dalam penyusunan kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur untuk menjamin risk response terlaksana dengan efektif.

Aktifitas pengendalian ini berupa pembuatan kebijakan dan prosedur, pengamanan kekayaan organisasi, delegasi wewenang dan pemisahan fungsi, dan supervisi atasan.

7. Informasi dan komunikasi (information and communication)

Fokus dari langkah ini adalah menyampaikan informasi yang relevan kepada pihak terkait melalui media komunikasi yang sesuai dan tepat.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyampaiaan informasi dan komunikasi adalah kualitas informasi, arah komunikasi, dan alat komunikasi.

8. Pemantauan (monitoring)

Langkah terakhir adalah monitoring. Monitoring dapat dilaksanakan baik secara terus menerus (ongoing) maupun terpisah (separate evaluation).

Pada proses monitoring, perlu dicermati adanya kendala seperti reporting deficiencies, yaitu pelaporan yang tidak lengkap atau bahkan berlebihan (tidak relevan).

Nah itulah tadi semua hal mengenai manajemen risiko mulai dari pengertian, langkah-langkah, dan cara mengoptimalkan manajemen risiko. Semoga dapat bermanfaat, saya mohon maaf untuk kesalahan yang ada sekian dan terima kasih.

Jika anda memiliki pertanyaan atau kirtik dan saran mengenai tulisan ini dapat anda sampaikan melalui kotak komentar yang telah disediakan. Terima kasih kembali atas perhatiannya sampai jumpa pada artikel selanjutnya.


Leave a Comment