Profil Singkat Ricky Elson, Ilmuan Mobil Listrik Indonesia

Tahun 2012 kemarin kita dihebohkan dengan kemunculan mobil listrik dengan desain mobil sport. Dan salah satu sosok yang ada dibelakang pembuatan mobil listrik tersebut adalah Ricky Elson. Berikut ini kisah dari Ricky Elson yang meninggalkan semua karier cemerlangnya demi membangun Tanah Air.

Ricky Elson adalah putra bangsa kelahiran Minang tahun 1980. Sejak masih muda dia tertarik dengan bidang tekonologi, sehingga dia menempuh pendidikan tingginya di Jepang dalam bidang tersebut.

Dia pun menetap 14 tahun di Jepang, dan hal tersebut memberikan pengalaman tersendiri bagi Ricky. Bahkan selama bekerja di Jepang paling tidak ada 4 penemuan di bidang terori motor listrik telah dipatenkan di Jepang, Dengan kerier yang begitu cerah dia mendapatka segala fasilitas yang sangat mempuni.

Dengan bakat yang luar biasa yang dimiliki Ricky membuat Dahlan Iskan (Menteri BUMN saat itu) memintanya kembali ke Tanah Air untuk mengembangkan mobil listrik di negeri sendiri. Namun saat itu hati Ricky merasa gamang untuk kembali ke Indonesia, bukan masalah akan meninggal zona nyaman di Jepang melainkan apakah Indonesia akan siap menerima segala perubahan besar yang dimandatkan Dahlan kepadanya?

Karena panggilan jiwanya untuk memajukan negerinya sendiri, pada akhirnya Ricky mengiyakan ajakan dari Dahlan Iskan. Dengan merelakan segala karier yang ada di Jepang, pada tahun 2012 Ricky kembali ke Indonesia untuk menjalankan proyek mobil listrik.

Kurang dari 1 tahun dalam mengembangkan teknologi mobil listrik, Ricky bersama tim didukung oleh Danet Suryatama yang kemudian berhasil untuk menyelesaikan prototype mobil yang diberi nama Tucuxi.

Walaupun telah jadi, tapi izin layak jalan tak kunjung diberikan oleh kementerian terkait. Entah apa yang menjadi permsalahan, dan hal ini tentunya menjadi batu sandungan dari Rocky.


Walaupun Tucuxi tak mampu melaju dijalan, Ricky dan Dahlan Iskan masih berupaya untuk menghadirkan teknologi mobil listrik yang lain. Kedua mobil tersebut diberi nama Selo untuk mobil tipe sport dan Gendhis untuk mobil mini bus.

Saat itu kedua mobil tersebut dipamerkan di ajang KTT APEC pada tahun 2013 di Bali. Tapi mau dikata apa, inovasi yang ciamik dari putra bangsa malah tak dihargai oleh negerinya sendiri. Dengan tak kunjung diberinya tanda lulus emisi dan tak diberikan izin layak jalan, membuat impian Rocky hampir roboh.

Walaupun gagal mengembangkan mobil listrik di Indonesia, Ricky memilih untuk menetap di desa Ciheras di daerah Tasikmalaya. Dan hidupnya boleh dikatakan sederhana, jauh dari kata mewah seperti yang dia dapatkan ketika bekerja di Jepang. Selama di Ciheras, Ricky membimbing beberapa mahasisa dan murid lainnya untuk belajar mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin.

Walaupun terkesan timpang dengan apa yang pernha dilakukannya, tapi setidaknya dapat hal tersebut dapat berguna bagi desa-desa di Indonesia yang masih tertinggal. Beberapa kali Ricky masih sering mengungkapkan perasan kecewanya dan harapannya bagi keterbukaan pihak pemerintah akan pengembangan teknologi baru di negeri sendiri.

Kemampuan dari Ricky yang sering dijuluki “putra petir” ini memang tak dapat diragukan. Dengan kemampuan yang dimiliki banyak perusahaan Jepang yang kepincut dan tak mau memecatnya ketika dia sudah bekerja.

Walaupun telah cuti panjang tapi masih memberikan bagi Ricky kesempatan untuk kembali ke Jepang. Karena ide-ide cermelangnya sangat dihargai di negeri Jepang dibandingkan di negerinya sendiri.

Ricky Elson mungkin mengalami kebingungan anatar memilih penggilan hati atau kehidupan nyaman yang akan didapatkan ketika kembali ke Jepang. Tapi yang pasti dia sudah memahami bahwa sekarang ini Indonesia harus mulai belajar dan mendukung prestasi putra-putri bangsa. Agar tak ada lagi yang mengalami nasib sama seperti Ricky Elson, yang dihargai di luar negeri tapi tak di negerinya sendiri.


Leave a Comment